Minggu, 10 Maret 2013

Budaya Visual dan Perubahan Global



Geliat perubahan di seantero dunia tengah mengemuka. Di tingkat dunia, gerakan Occupy Wallstreet mengagetkan jagad ekonomi; demikian pula, revolusi besar-besaran di Timur Tengah yang dikenal dengan nama Arab Spring tidak kunjung usai meski telah berlangsung sejak pertengahan 2011.
--------------------------------------------------------------------------------
 Sementara itu di Indonesia, kasus demi kasus menyeret banyak nama politisi; akibatnya, ketidakpercayaan rakyat pada politik beserta sistemnya semakin mengembang; padahal pemilu tinggal di depan mata. Perubahan global ini adalah keniscayaan yang kita hadapi. Keberadaannya dapat diamati dari berbagai perspektif, termasuk melalui kacamata seni rupa. Berbagai pertanyaan dapat diajukan.

Budaya visual apa yang mengemuka dalam perubahan besar itu? Mengapa ia muncul? Bagaimana mensikapinya? Kemana nilai estetis seni rupa akan bergulir?

Untuk membahas persoalan itu, kami mengundang Saudara/Saudari dalam Seminar “Budaya Visual dan Perubahan Global”, yang insya Allah akan dilaksanakan di Gedung Kuliah Umum Sasana Ajiyasa Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Senin, 11 Maret 2013, pukul 12.00-15.00 WIB.

Narasumber :
1. Pemateri: Deni Junaedi, S.Sn, M.A. (pengamat budaya visual, dosen Seni Murni ISI Yogyakarta, jurnalis majalah Visual Art)
“BENDERA KHILAFAH: Representasi Budaya Visual dalam Perubahan Global”
(Makalah diadaptasi dari tesis “Bendera di Hizbut Tahrir Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta [Kajian Konteks Sejarah, Konteks Budaya, dan Estetika Semiotis]” yang telah diuji dihadapan Dewan Penguji Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM Yogyakarta).

2. Keynote Speaker
Andika Dwijatmiko, S.Sn. (CEO Syafa’at Marcomm, Education Director ADGI Pusat)
“Menjadi Mahasiswa Mediocre/Masterpiece?”

Fasilitas: Makalah, Sertifikat, Snack,
GRATIS!

CP: Nova 0898 3913 743
fb: KMI ISI Jogja twit: @kmi_isi_jogja
 — bersama Ima Nailul ChusniRohmat RodiyatAndrian Syahroni, dan 45 lainnya.


Boeat kalijan, wahai para mahasiswa jang ingin taoe apa itoe nasionalisme, apa itoe negara bangsa dan bentoek ideal kesatoean oemat islam sedoenia. hadirilah!

Rabu, 06 Maret 2013

catatan dari sang pencari Ilmu - Waspada dosa dzolim


Alhamdulillah bisa diberi kesempatan untuk ikut bedah buku dosa investasi , buku bagus banget merinding kalo bacanya . Em Bedah buku kemarin teryata materiny belum selesai akan dilanjut di gelombang 2 tanggal 18   maret 2013 di aula rumah tafidQ deresan depan masjid nurul asri jogja .

Ada 3 dosa yang dibahas di acara bedah buku kemarin pertama dosa karena kesalahan sendiri (ini yang sering dibahas sama ustad2 dipengajian) dosa menzalimi diri sendiri dan dosa kita kepada Allah .

Dosa kedua karena kesalahan kita kepada orang lain , (jarang dibahsa ustad saat jumatan) ,salah satu sample pembahasan adalah hadis dibawah ini . 

Saya baru ngeh kenpa Amirul Mukminin waktu dulu sangat takut kalo ada yang terzalimi oleh kekuasaannya , bayangkan saja ya dibanding orang zaman sekarang udah pada gak takut dosa kali ya .

 Misal nih pak Lurah korupsi nanti pas hari kiamat  itu orang- orang yang pernah diambil haknya akan menuntut kalo dilkelurahan ada 10.000 orang bayangkan. Itu baru level kelurahan belum level bupati atau para angota dewan dll akan bertanggung jawab menjalimi Miliyaran orang yang dipimpinya kalo misal korupsi.

Belum lagi pemimpin yang sengaja memuluskan jalan Riba, memuluskan jalan agar sumber daya alam di negeri ini dikuasai asing dan para rakyat sengsanra kalikan berapa mereka zalim kepada orang lain.

Hati -hati kezaliman kepada orang lain  



Dari Abi Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda: “Tahukah kamu siapa yang  bangkrut itu?, mereka (sahabat) berkata: “Ya Rasulullah, orang yang  bangkrut menurut kami ialah orang yang tidak punya kesenangan dan uang“  (kemudian) Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari  umatku ialah orang yang datang (pada hari kiamat) membawa pahala  sholat, zakat, puasa dan haji. Sedang (ia) pun datang (dengan membawa  dosa) karena memaki-maki orang, memukul orang, dan mengambil harta  benda orang (hak–hak orang), maka kebaikan-kebaikan orang (yang  menzalimi) itu diambil untuk diberikan kepada orang-orang yang  terzalimi. Maka tatkala kebaikan orang (yang menzalimi) itu habis,  sedang hutang (kezalimannya) belum terbayarkan, maka diambilkan kajahatan-kejahatan dari mereka (yang terzalimi) untuk di berikan  kepadanya (yang menzalimi), kemudian ia (yang menzalimi) dilemparkankedalam neraka (HR. Muslim)

Waspadalah sungguh-sungguh terhadap kezaliman itu. Karena orang yang datang dengan kebaikan-kebaikannya di Hari Kiamat, dan ia mengira bahwa kebaikan-kebaikannya itu akan menyelamatkannya. Tiba-tiba tidak putus-putus datang pengaduan dari orang lain, yang mengadukan: “Ya Allah! Hamba-Mu itu telah melakukan kezaliman padaku.” Maka firman Allah:“Hapuskan (kurangkan) bagian pahala dari kebaikannya itu”. Dan begitulah seterusnya sampai tidak tersisa kebaikannya itu walau sedikit pun. Dan apabila sdh tidak tersisa lagi amal kebaikannya, maka dosa-dosa orang yang pernah dizaliminya, akan dibebankan pada dirinya.

dosa ketiga belum dibahas karena waktu habis ditunggu di aula rumah tahfidzQ deresan masjid nurul asri jgja.



malamnya saya langusng diajak teman Dhika dari makelar sedekah untuk ikut sharing bersama juragan bubur syriafah di Rumah Tahfidz Lansia  Makelar sedekah jalan paris jogja. 

Sampai disana banyak ilmu lagi yang saya dapat tentang Tauhid salah satunya kadang kita sering menuhankan kemampuan kita sendiri, kepintaran kita , kita mengaggap dengan bisnis kita bisa dapat rizki. 

Padahali nih ya sebenernya yang kasih rizki itu Allah tapi kita kadang ujub dan salah niat atau riya yang menyebabkan tauhid kita kurang pas malah awas -awas bisa syirik.

Rizki itu milik Allah , bukan karena brosur, karena bisnis, karena orang lain, Allah yang mengatur , yang cicak  makanannya  terbang alias nyamuk pasti makan apalagi kita .

Ilmu kedua tentang rumus  TOP 3. Kalau mau dapat rizki dari Allah harus banyak -banyak ngamal sholeh dan jauhi maksiat dan mendzolimi orang lain.

Rumus 1. Sholat Tepat waktu 
Rumus ke 2. Berbakti Kepada Orang Lain
Rumus ke 3. Berjuang di jalan Allah atau jihad Fisabilillah 

setelah saya ingat -ingat oh iya ini hadis 

 Abdullah (bin Mas’ud) RA berkata, “Saya bertanya kepada Nabi, ‘Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?’ (Dalam satu riwayat: yang lebih utama) Beliau bersabda, Shalat pada waktunya’ Saya bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau bersabda, ‘Berbakti kepada kedua orang tua. Saya bertanya, ‘Kemudian apa lagi’? Beliau bersabda, ‘Jihad (berjuang) di jalan Allah.” Ia berkata, “Beliau menceritakan kepadaku. (Dalam satu riwayat: “Saya berdiam diri dari Rasulullah.”) Seandainya saya meminta tambah, niscaya beliau menambahkannya.” (H.R. Bukhari, hadits Shahih dan terdapat di dalam Shahih Bukhari)

Amalan yang paling dicintai Allah , kalo mau dicintai Allah ya kita harus amalkan amal sholeh ini, kalo Allah udah cinta ama hambanya insya Allah doa kita akan terkabul .

Tapi hati -hati dengan keinginanmu belum tentu baik menurut Allah , Allah tahu yang terbaik untuk hamba- hambanya.

Mas Firli juga bercerita kalo mas jodi waroeng stik juga punya amalan yaitu sedekah - duha - dan Al Quran. 

Terus mas firli juga memberi inspirasi kalo mau dapat amalan yang mengalir terus besok yang duduk diacara ini harus maju kedepan mengajar / jadi pembicara disini.  

Salah satu dari amalan jariah yang pahalanya mengalir walau kita mati meninggal adalah ilmu yang bermanfaat moga lewat tulisan ini bisa bermanfaat buat sahabat semua.

Yuk kita Belajar dan Mengajar eh iya satu lagi mari kita doakan pemimpin kita agar dapat rahmat dan hidayah agar taubat jangan malah kita caci maki, pemimpin kita yang masih islam itu juga banyak yang muslim masih saudara dengan kita , mari kita doakan jangan diacaci maki nanti pahala kita malah berkurang loh. 






Selasa, 05 Maret 2013

Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah

Banyak ahli sejarah menulis, bahwa fanatis kelompok termasuk di dalamnya faham Nasionalisme, merupakan salah satu sebab utama runtuhnya khilafah Utsmaniyah.


Dalam bukunya “Daulah Utsmaniyah” Dr. Jamal Abdul Hadi, salah seorang pakar sejarah dari Mesir, menyebutkan beberapa sarana yang dimanfaatkan Yahudi Eropa untuk menghancurkan kekuatan pemerintahan Islam di Turki waktu itu. Diantaranya adalah dengan menghidupkan faham Nasionalisme.

Di dalam buku setebal 163 halaman tersebut, beliau menjelaskan permasalahan di atas sebagai berikut :

“ …mereka berusaha memporak-porandakan negeri Islam ini dari dalam, ingin menghancurkannya lewat tangan putra-putranya sendiri. Yaitu dengan cara mendukung dan membujuk partai-partai oposan, agar membentuk tandzim-tandzim rahasia dengan tujuan 
untuk menggulingkan pemerintahan Islam. Partai-partai oposan tersebut diantaranya adalah: Partai Pemuda, Partai Persatuan dan Pengembangan, dan Partai Kamaliyyun. Selain cara itu, mereka juga menghidupkan faham Nasionalisme di kalangan umat Islam, serta menaburkan benih perselisihan antara umat Islam dan umat agama lain. Karena dari situ akan terbuka jalan lebar bagi kekuatan asing untuk ikut campur tangan dengan dalih keamanan”. (Dr. Jamal Hadi, Daulah Utsmaniyah, juz: 2, hal. 20)

Apa yang diungkapkan Dr. Jamal Hadi tersebut, dikuatkan dengan pendapat muwafik Bani Marjah. Di dalam tesisnya yang berjudul “Sultan Abdul Hamid (khilafah Islamiyah)”, penulis yang pernah melalang benua ke kota-kota di Eropa dan Arab untuk memburu data-data yang sah tentang Khilafah Utsmaniyah tersebut menjelaskan sebagai berikut :
“Eropa telah berpengalaman dalam menebarkan faham Nasionalisme dan menyalakan api perselisihan antar kelompok dan suku, terutama antara bangsa Turki, mereka membentuk kedutaan dan konsulat di berbagai kota untuk mencapai tujuannya, seperti di Istambul, Damaskus, Baghdad, Cairo, dan Jeddah.” (Muwafiq Bani Marjah, Sulthon Abdul Hamid wal Khilafah Utsmaniyah, hal. 174)


Begitu juga apa yang ditulis pakar sejarah Mahmud Syakir di dalam bukunya “Tarikh Islam” menunjukkan hal yang serupa. Di dalam juz ke-8, beliau menjelaskan:
“… dan mungkin hal yang terpenting adalah kelompok yang bergerak untuk menyebarkan paham Nasionalisme, mereka tidak mempunyai gerakan yang berarti untuk meruntuhkan Daulah Islamiyah kecuali dengan “menyebarkan paham Nasionalisme”. 

Oleh karena itu, mereka bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut. Dan ternyata paham Nasionalisme tersebut merupakan unsur terpenting di dalam melemahkan kekuatan Daulah Islamiyah, karena umat Islam dengan Nasionalisme akan tercerai-berai, saling berselisih, masing-masing ingin bergabung dengan suku dan kelompoknya, ingin melepaskan diri dari kekuasaan Daulah, dan cukuplah dengan gerakan untuk memisahkan diri tersebut akan terkotak-kotaklah kekuatan umat, dengan demikian Daulah akan melemah dan terputus jaringannya dan akhirnya ambruk… begitulah yang terjadi.” (Mahmud Syakir, Tarikh Islam, Al-Maktab Islami, 1991 M, juz: 8, hal. 122)

Bermula dari munculnya berbagai propaganda ke arah Nasionalisme Thoriah, yang dipelopori oleh Partai Persatuan dan Pengembangan, mereka memulai gerakannya dengan men-Turki- kan Daulah Utsmaniah di Turki.

Untuk menopang dakwahnya ini, mereka menjadikan serigala (sesembahan bangsa Turki sebelum datangnya Islam) sebagai syiar dari gerakannya tersebut. (Muhammad Muhammad Husain, Ittijahat Wathoniyah, juz: 2, hal. 85)

Partai ini dipimpin oleh Ahmad Ridho dan berpusat di Paris.
Usaha-usaha yang dilakukan partai ini antara lain:
1. Membuka cabang-cabang di Berlin, Salonik, dan Istambul.
2. Menerbitkan majalah “ANBA”. Majalah tersebut disponsori gerakan Masuniah di       Paris.
3. Menyebarkan paham Nasionalisme Thouroniah dan menghidupkan kebudayaan-kebudayaan Barat di negara Turki.
4. Menyebarkan rasa permusuhan dengan bangsa Arab, diantaranya dengan adanya usaha untuk mencopot kementrian Wakaf, Kementrian Dalam Negeri, dan kementrian Luar Negeri, yang waktu itu dipegang oleh orang-orang Arab, untuk diganti dengan orang Turki.
5. Berusaha membatasi keistimewaan yang diberikan Utsmaniah hanya kepada bangsa Turki saja.


(Muwafiq Bani Marjah, Sulthon Abdul Hamid dan Khilafah Utsmaniah, hal. 174)
Gerakan itu membuat bangsa Arab berang, akibatnya dalam waktu singkat bermunculan gerakan “Fanatisme Arab” dan dengan cepat menyebar di seluruh wilayah pemerintahan Utsmaniah, seperti di Mesir, Syam, Iraq, dan Hijaz.


Bermula dari pelataran bumi Syam, fanatisme ini berkembang dan membesar. Fanatisme ini bertujuan untuk menumbangkan khilafah Utsmaniah yang dipegang oleh orang Turki. Lebih ironis lagi, fanatisme ini dikendalikan oleh orang-orang Nasrani Libanon, yang telah terbina dalam pendidikan Barat. Diantara para tokohnya adalah Faris Namir dan Ibrahim Yasji.

Gerakan fanatisme arab ini didorong lebih jauh lagi oleh Negib Azoury, seorang kristen pegawai pemerintahan Utsmani di Palestina. Ia berhasil menerbitkan buku “Le Revell de la nation arabe”.

 Di dalam bukunya tersebut, ia mengutarakan gagasannya untuk membuat suatu arab empire yang mempunyai batas-batas alami, yaitu: lembah Eufrat dan Tigris, Lautan India, Terusan Suez, dan Lautan Tengah. Gagasan ini jelas akan mendorong lebih cepat terciptanya separatisme wilayah arab dari kekuasaan Turki Utsmani. (Azyumardi Azra, Islam dan Negara: Eksperimen Dalam Masa Modem)

Agar penyebaran fanatisme ini lebih aman dan mendapat dukungan, mereka menggunakan nama Jam’iyah sebagai kedok. Jam’iyah ini bergerak di dalam bidang keilmuan dan kesenian dengan tujuan untuk menyebarkan ilmu-ilmu bahasa Arab dan mempromosikan budaya-budaya barat di negara-negara Arab.

Dalam waktu dua tahun saja, Jam’iyah ini mampu merekrut 50 anggota dari kalangan Nasrani semuanya. Jam’iyah ini mendukung penuh gerakan Protestan yang berada di wilayah Syam.
Pada tahun 1914-1918 pecah Perang Dunia I, kesempatan bagi bangsa-bangsa Arab untuk memisahkan diri dari khilafah Utsmaniah, mereka ingin mendirikan “Khilafah Arabiyah” sebagai tandingannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Inggris untuk memporak-porandakan kekuatan Islam.


Eropa mengerti betul bahwa perpecahan antara Arab dan Turki akan mengakibatkan kekuatan Islam lemah, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Muhammad Abduh :
“ Sesungguhnya bangsa Arab mampu untuk mendepak orang-orang Turki dari kursi kekhalifahan, akan tetapi bangsa Turki tidak rela begitu saja. 

Apalagi waktu itu bangsa Turki mempunyai kekuatan militer yang tidak dimiliki oleh pihak lain, dengannya mereka akan menyerang dan membunuh bangsa Arab. Maka apabila kedua kekuatan itu melemah, Eropalah yang menjadi kuat –mereka sudah lama menunggu antara pertarungan umat Islam tersebut-, kemudian berusaha untuk menguasai kedua bangsa tersebut atau salah satunya yang terlemah. 

Padahal waktu itu bangsa Arab dan bangsa Turki merupakan bangsa yang terkuat di dalam tubuh umat Islam. Oleh karenanya, akibat dari pertarungan kedua bangsa itu, jelas akan melemahkan kekuatan Islam sekaligus merupakan jalan pintas meunuju kehancurannya.” (Dr. Muhammad Imaroh, Al-Jam’iyah Al-Islamiyah wal Fikroh Al-qoumiyah, Daar Assyuruq 1414-1994, hal. 53, 54)

Mengetahui yang demikian, diutuslah “Lawrence”, spionis Inggris didikan Yahudi, yang dikemudian hari dikenal dengan Lawrence Arab. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, akhirnya Revolusi Arab berhasil menghantam kekuatan khilafah Utsmaniah di Turki, tentunya di bawah bimbingan dan arahan Lawrence Arab ini. Tentara-tentara Arab dalam hal ini berkumpul dan bersatu dengan kekuatan-kekuatan asing.


Jauh-jauh sebelum persekongkolan untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniah itu dilakukan, Inggris telah menjanjikan Syarif Husain, pembesar Makkah waktu itu, apabila khalifah Utsmaniah jatuh maka Syarif Husain akan menjadi kholifah pengganti.

Namun kenyataannya, setelah rencana itu berhasil dan perang telah usai, seperti kebiasaannya, Inggris menyelisihi janjinya, dua perwakilan yang diundang Syarif Husain dalam acara penyerahan kekuasaan yang diadakan di Jeddah tak mau hadir, bahkan pada waktu itu Inggris membuka kartu yang selama ini disimpan. Ternyata tiga negara besar telah berkolusi untuk membagi wilayah Khilafah Utsmaniah pada perjanjian rahasia antara Inggris, Perancis, dan Rusia.




Pada waktu itu juga, Musthafa Kamal sang pengkhianat itu, berhasil merebut tampuk kepemimpinan dari keluarga Utsmaniah. Tampaknya hal itu telah direncanakan jauh-jauh sebelumnya, yaitu ketika Ia memimpin gerakan Kamailun, yang melakukan aktifitasnya di bawah tanah. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari gerakan Masuniah (Mason) Internasional. (Dr. Jamal Abdul Hadi, Al-Mujtama’ Al-Islamy Al-Mu’ashir, Al-Wafa’, juz I, hal. 59)
Puncaknya pada muktamar “Luzone”, yang akhirnya, Musthafa Kamal menerima 4 syarat yang diajukan Inggris untuk mengakui kekuasaan barunya di Turki. Ke-empat syarat itu adalah :
1. Menghapus sistem khilafah.
2. Mengasingkan keluarga Utsmaniah di luar perbatasan.
3. Memproklamirkan berdirinya negara sekuler.
4. Pembekuan hak milik dan harta milik keluarga Utsmaniah.
(Mahmud Syakir, Tarikh Islam, juz: 8, hal. 233)


Pada waktu itu secara resmi, “The SickMan” telah tumbang, setelah enam abad lamanya berkuasa. Khilafah Utsmaniah harus tumbang, menghembuskan nafasnya yang terakhir pada Perang Dunia I yang berlangsung selama 4 tahun (1914-1918) itu.

Setelah berdiri tegar berabad-abad lamanya membela kemuliaan, akhirnya bangunan yang kokoh itu runtuh. Runtuh bukan saja karena serangan dari musuh-musuh luarnya, akan tetapi juga runtuh di tangan putra-putranya sendiri.

Setelah keruntuhan benteng terakhir umat Islam itu, bangsa Arab baru sadar, bahwa mereka telah terkecoh rayuan Inggris dan secara tidak sadar ikut andil di dalam meruntuhkan Khilafah Utsmaniah, akan tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa lagi.

Kegagalan mereka untuk mendirikan Khilafah Arobiyah, membuat mereka kehilangan nyali untuk mulai bergerak lagi, mereka telah menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang kehilangan induknya. Kalaupun ada usaha-usaha mereka, yang sempat ditulis sejarah untuk mengembalikan kemuliaan mereka kembali, itupun hanya sebatas surat menyurat antara Syarif Husain dan Musthafa Kamal.

Akan tetapi apa yang diharapkan bangsa Arab dari seorang fanatik Turki yang membenci bangsa Arab itu sendiri? Begitulah permisalan syaithan ketika Ia berkata kepada manusia “kafirlah” tatkala Ia telah kafir tiba-tiba syaithan berlepas diri.

Pada detik-detik keruntuhan Khlafah Utsmaniah, nun jauh di sana orang-orang Nasrani berpesta-pora, kesempatan yang mereka tunggu berabad-abad telah tiba, kedengkian dan kesumat selama ini telah tersampaikan. Jendral Ghordh, pimpinan pasukan Prancis telah berdiri di depan makam Sholahudin Al-Ayyubi seraya berteriak: “Wahai Sholahudin kami datang kembali”.

Alam Islami diselimuti kabut tebal, tak tahu kapan kabut itu akan sirna. India merintih. Mesir merunduk sedih, menangis terisak atas kematianmu, Syam tertegun bertanya-tanya, Iraq dan Persia telah hilang dari bumi khilafah.

Metode Dakwah Rasulullah saw


Metode yang ditempuh Hizbut Tahrir dalam mengemban dakwah adalah hukum-hukum syara’, yang diambil dari thariqah (metode) dakwah Rasulullah saw, sebab thariqah itu wajib diikuti. Sebagaimana firman Allah Swt:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah (dengan membaca dzikir dan mengingat Allah).” (QS. Al Ahzab : 21)
“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran : 31)
“Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian, maka ambilah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr : 7)
Dan banyak lagi ayat lain yang menunjukkan wajibnya mengikuti perjalanan dakwah Rasulullah saw, menjadikan beliau suri teladan, dan mengambil ketentuan hukum dari beliau.
Berhubung kaum muslimin saat ini hidup di Darul Kufur—karena diterapkan atas mereka hukum-hukum kufur yang tidak diturunkan Allah Swt— maka keadaan negeri mereka serupa dengan Makkah ketika Rasulullah saw diutus (menyampaikan risalah Islam). Untuk itu fase Makkah wajib dijadikan sebagai tempat berpijak dalam mengemban dakwah dan meneladani Rasulullah saw.



Dengan mendalami sirah Rasulullah saw di Makkah hingga beliau berhasil mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah, akan tampak jelas beliau menjalani dakwahnya dengan beberapa tahapan yang sangat jelas ciri-cirinya. Beliau melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang tampak dengan nyata tujuan-tujuannya. 
Dari sirah Rasulullah saw inilah Hizbut Tahrir mengambil metode dakwah dan tahapan-tahapannya, beserta kegiatan-kegiatan yang harus dilakukannya pada seluruh tahapan ini, karena Hizbut Tahrir mensuriteladani kegiatan-kegiatan yang dilakukan Rasululah saw dalam seluruh tahapan perjalanan dakwahnya.
Berdasarkan sirah Rasulullah saw tersebut, Hizbut Tahrir menetapkan metode perjalanan dakwahnya dalam 3 (tiga) tahapan berikut :
Pertama, Tahapan Pembinaan dan Pengkaderan (Marhalah At Tatsqif), yang dilaksanakan untuk membentuk kader-kader yang mempercayai pemikiran dan metode Hizbut Tahrir, dalam rangka pembentukan kerangka tubuh partai.
Kedua, Tahapan Berinteraksi dengan Umat (Marhalah Tafa’ul Ma’a Al Ummah), yang dilaksanakan agar umat turut memikul kewajiban dakwah Islam, hingga umat menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya, agar umat berjuang untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan.
Ketiga, Tahapan Penerimaan Kekuasaan (Marhalah Istilaam Al Hukm), yang dilaksanakan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.