Senin, 18 Juni 2012

Tamasya belajar sambil beramal


Wisata bisnis 5 

Membantu anak panti  mengenalkan dan mengeksplorasi Entrepreneurship secara berbeda dan menyenangkan. Peserta tidak hanya mendapatkan inspirasi dari pelaku usaha tapi juga mendapatkan gambaran langsung dari tempat usaha, proses usaha beserta segala aspek bisnisnya.


Tujuan Wisbis cukup beragam dari bisnis kuliner, Batik, Kerajinan dll. Beberapa tujuan Wisbis yang sudah dikunjungi dan akan dikunjungi adalah : Batik Sogan Rejodani, House Of Lawe, Warung Rajab, Rumah Warna, Coklat Roso, Cokro Tela, Goeboex Coffee dll


Bagaimana berpartisipasi?
Untuk mendukung program ini bisa menjadi donatur, sponsor ataupun menjadikan program CSR perusahaan Anda. untuk partipasi bisa menghubungi 02749670797
Donasi yang bisa juga dilakukan melalui:
  • BRI KCP UGM 216401001022502 a.n  Dwi Wahyu Arif Nugroho
  • Bank Mandiri cab. Yogyakarta Katamso No. Rek. 1370007480144  a.n Dwi Wahyu Arif Nugroho
  • BNI Cab UGM Yogya 0225606051 a.n  Dwi Wahyu Arif Nugroho
Untuk mengetahui jadwal dan pendaftaran silahkan kontak juga (0274)9670797 atauinfo@senyumkita.com. Dan ikuti update kegiatanya di www.senyumkita.com dan  via twiter : @senyumkita



Banyak kisah anak yatim dengan segala suka dukanya yang dapat kita baca dan kita renungi sebagai pembelajaran bagi kita yang telah diberi kelebihan, kemampuan, serta kelengkapan dalam keluarga. Dengan kata lain, kita harus menjadi rahmat bagi mereka yang membutuhkan. Sebab anak yatim adalah satu daripada komponen kehidupan yang harus kita rahmati.

Akibat kematian ayah atau ibu, seorang anak akan merasakan suatu kekosongan dalam hidupnya. Kosong dari curahan kasih sayang dan segala aspek yang memenuhi keperluan hidup seperti makan, minum, pakaian, dan lain-lain. Ini menyebabkan seseorang anak yatim itu selalu dihantui oleh perasaan sedih dan hampa. Realiti yang ada di tengah masyarakat sekarang menunjukkan bahwa mayoritas anak yatim harus mengarungi sebuah kehidupan yang keras dan sulit.

Beberapa hadist yang menganjurkan agar kita senantiasa meneladani  kisah anak yatim yaitu hadist dari Abu Ummah diceritakan bahawa Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim kerana Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Hadis riwayat Ahmad)

Selain itu dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Sebaik-baik rumah di antara orang Islam adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan sebaik-baiknya dan seburuk-buruk rumah adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim, namun diperlakukan dengan buruk.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)



Jumat, 15 Juni 2012

photo rendra visual






Ukhuwah Islamiyah Untuk Menegakkan Syariah Dan Khilafah


Download radio krph Merajut Ukhuwah untuk Kemenangan Dakwah (Ust. Abdullah Sunono)


Makna Ukhuwah Islamiyah.
Menurut Imam Hasan Al-Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.
Hakekat Ukhuwah Islamiyah
1. Nikmat Allah (QS. 3: 103)
2. Perumpamaan tali tasbih (QS. 43: 67)
3. Merupakan arahan Rabbani (QS. 8: 63)
4. Merupakan cermin kekuatan iman (QS. 49: 10)
Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah
Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan aqidah dan syariat Islam. Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas pada waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan aqidah (misal: ikatan keturunan [orang tua-anak], perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan pribadi).
Hal-hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah:
1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita cintai
2. Memohon dido’akan bila berpisah
3. Menunjukkan kegembiraan & senyuman bila berjumpa
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
8. Memperhatikan saudaranya & membantu keperluannya
9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
Buah Ukhuwah Islamiyah
1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di syurga (15:45-48)
Referensi
Bercinta dan bersaudara karena Allah, Ust. Husni Adham Jarror, GIP
Meraih Nikmatnya Iman, Abdullah Nasih ‘Ulwan
Rahasia Sukses Ikhwan Membina Persaudaraan di Jalan Allah, Asadudin Press
Panduan Aktivis Harokah, Al-Ummah



Muhammad al-Fakkar
Muqaddimah
Munculnya banyak kelompok dan gerakan Islam sering dianggap menjadi persoalan dalam upaya membangun ukhuwah Islamiyah. Padahal persoalan ini harusnya dianggap secara wajar karena syara’ membolehkan di tengah kaum muslimin lebih dari satu kelompok / gerakan selama kelompok tersebut berasaskan Islam dan berjuang untuk tegaknya Syariat Islam.
Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah ada sekelompok umat diantara kalian yang mendakwahkan kebaikan (Islam), beramar ma’ruf dan melakukan nahi munkar; dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali-Imrân [3]: 104).
Sebaliknya Islam mengharamkan dengan kelompok atau individu muslim yang ada saling berpecah belah dan bermusuhan. Kelompok yang banyak memang tidak harus disatukan, tetapi dalam rangka memenuhi seruan Allah SWT mereka harus memiliki visi dan misi yang sama, yakni mewujudkan kehidupan Islam dengan tegaknya Syariat Islam.
Membangun ukhuwah Islamiyah merupakan bagian dari pelaksanaan Syariat Islam, karena itu bagimana membangun ukhuwah tersebut, juga harus mengikuti metode Islam.
Di samping itu ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan riil umat dalam rangka menyelesaikan persoalan umat yang berat. Semakin berat persoalan maka tenaga yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan itu semakin besar. Terwujudnya ukhuwah di atas aqidah dan Syariat Islam merupakan kekuatan yang akan mampu menyelesaikan persoalan umat.
Ide ukhuwah (penyatuan, unifikasi) saat ini juga merupakan salah satu kecenderungan global. Jerman Barat dan Timur sudah menyatu, Eropa juga menyatu dengan mata uang Euro. Jadi ide ukhuwah Islam jauh lebih kuat baik dilihat dari sisi konsep bahwa Syariat Islam mewajibkan umat Islam mewujudkannya maupun realitas bahwa umat Islam pernah bersatu dalam kurun waktu yang lama (sekitar 13 abad) serta kebutuhan akan persatuan umat untuk dapat menaungi jumlah umat Islam yang saat ini telah mencapai 1,5 milyar. Sebagai sebuah bentuk unifikasi riil tentu tidak sebatas ukhuwah antar individu dan kelompok tetapi Islam telah mmberikan konsep kesatuan ini dalam bentuk institusi yakni Daulah Khilafah Islamiyah.

Secara alamiah manusia juga akan hidup berkelompok-kelompok sesuai persamaan dan kesamaan yang mereka miliki. Namun Islam telah menuntut umat ini agar menjadikan aqidah dan Syariat Islam sebagai pengikat antar manusia. Islam tidak membiarkan ikatan-ikatan yang lemah dan salah mendominasi manusia.
Ukhuwah yang lemah dan berbahaya adalah ukhuwah yang tegak di atas landasan yang bertentangan dengan Islam, misalnya : keturunan, suku, kebangsaan (nasionalisme), patriotisme dan lain-lain yang termasuk ikatan ashobiyyah.
Rasulullah Saw bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami yang menyeru kepada ashabiyyah (kelompok suku/ bangsa), berjuang untuk ashabiyyah dan mati di atas ashabiyyah.” [HR. Abu Dawud].
Sebaliknya Islam menuntut agar kita membangun ukhuwah di atas ikatan yang kokoh. Ikatan yang kokoh adalah ikatan yang dibangun di atas aqidah Islam dan diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan Syariat Islam.
Menyamakan Visi Dan Misi Gerakan Islam
Keberadaan gerakan dan kelompok Islam semata-mata untuk memenuhi perintah Allah SWT sebagaimana dalam QS Ali Imron 104. Jika demikian maka visi, misi dan aktivitas gerakan Islam juga seharusnya semata-mata menjalankan visi dan misi Syariat Islam.
Dengan ungkapan singkat visi yang dituntut pada gerakan Islam sesuai dengan Qs. Ali-Imrân [3]: 104 adalah terwujudnya kehidupan Islam dengan tegaknya Syariat Islam di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Dan untuk mewujudkan visi tersebut maka gerakan Islam haruslah memiliki misi:
* Menjadikan Islam sebagai tolok ukur dalam pemikiran, perasaan dan perbuatan baik individu, masyarakat maupun negara.
* Menjadikan Islam sebagai persoalan hidup dan matinya umat.
* Menjadikan Islam sebagai opini dan solusi bagi setiap persoalan, situasi dan kondisi.
Adapaun kegiatan yang harus dilakukan oleh gerakan Islam adalah:
* Membentuk kelompok ideologis (Hizb Mabda’iy)
* Membentuk dan membina kader (tatsqif murokaz)
* Membentuk dan membina basis massa dan opini
* Melakukan pergolakan pemikiran (as-shira’ al-fikriy)
* Melakukan perjuangan politik (al-kifâh as siyasiy)
* Menjalin hubungan dengan ahlul quwwah untuk tegaknya syariah dan khilafah (thalab nushrah)
Membangun gerakan Islam merupakan pengamalan dari perintah Allah dalam al-Qur’an surah Ali-Imrân [3] ayat 104 yang meminta agar di antara umat Islam hendaknya ada satu kelompok yang bekerja untuk menyerukan Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Tapi, ayat ini tidak berarti melarang ada lebih dari satu kelompok. Dengan kata lain, boleh saja di tengah-tengah umat terdapat banyak kelompok atau gerakan dakwah Islam. Yang jadi soal tentu saja adalah bagaimana gerakan-gerakan itu menyikapi keragaman yang ada.
Dengan demikian banyaknya gerakan Islam harus disikapi secara positif selama masing-masing gerakan berada dalam koridor Islam dan saling menjaga ukhuwah Islamiyah, tidak saling ‘menistakan’ satu sama lain. Banyaknya gerakan Islam bukan pelanggaran syara’ dan dapat dianggap sebagai keragaman bentuk partisipasi umat dalam upaya untuk memajukan Islam.
Bahwa realitas gerakan-gerakan itu begitu beragam baik dari segi pemikiran maupun orientasi geraknya merupakan konsekuensi dari kondisi Islam dan umatnya saat ini. Setelah tidak ada kehidupan Islam, ibarat buku, Islam adalah buku terbuka yang siapa saja bisa membaca, memahami, dan menginterpretasikannya. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada satu pun pihak yang merasa otoritatif bisa memegang kendali interpretasi terhadap Islam dan bagaimana memperjuangkannya. Oleh karena itu, banyaknya gerakan Islam merupakan konsekuensi dari keterbukaan itu dan secara positif bisa dilihat sebagai cermin dari semangat umat untuk dengan berbagai cara berperan serta dalam upaya memajukan Islam.
Tapi, tentu tidak hanya berhenti di sini. Semestinya, masing-masing kelompok atau gerakan itu harus terus melakukan pengkajian: Apakah pemikiran yang diemban dan dikembangkannya itu benar-benar haq, sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, serta geraknya telah sesuai dengan tuntutan syariah dan teladan Nabi saw.? Apakah secara rasional perjuangannya memang bisa diharapkan mampu menyelesaikan secara tuntas segenap problem umat dan menegakkan kembali kehidupan Islam yang di dalamnya diterapkan syariah dan umat bersatu karenanya.
Dengan kata lain, jangan sampai maksud kita ingin memajukan Islam, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih menegakkan Islam, yang terjadi justru melanggengkan sistem yang tidak islami dan menempatkan Islam selalu berada di bawahnya.
Jadi, penilaian ulang terhadap seluruh perangkat gerakan dan orientasi geraknya mutlak dilakukan agar apa yang kita dilakukan memang benar-benar dapat memajukan Islam secara nyata.
Menentukan apa yang harus diperjuangkan oleh gerakan Islam sangat terkait dengan dua hal penting: Bagaimana kita memahami kondisi faktual umat Islam saat ini dan kondisi ideal seperti apa yang kita cita-citakan.
Secara faktual, meski disebut dalam al-Quran sebagai sebaik-baik umat (khayru al-ummah) di antara sekian banyak kelompok masyarakat yang ada di dunia, dengan pengamatan sesaat, nyatalah bahwa umat Islam saat ini bukanlah umat yang terbaik. Umat Islam mengalami kemunduran luar biasa di segala lapangan kehidupan; baik di bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, politik, maupun sains dan teknologi. Yang tampak kini hanyalah sisa-sisa kejayaan Islam masa lalu.
Secara fisik, setelah runtuhnya Kekhilafahan Utsmani tahun 1924, wilayah Islam yang dulu terbentang sangat luas —mencakup seluruh jazirah Arab, Afrika bagian Utara, sebagian Eropa, Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Selatan— kini terpecah-pecah menjadi negara kecil-kecil. Secara intelektual, umat Islam menjadi sangat lemah dan karenanya bukan saja tidak mampu mengkanter sesat pikir Barat, tapi juga tidak mampu melakukan dialog intelektual secara seimbang. Impotensi intelektual ini jelas bermuara pada kemunduran total di bidang politik yang terjadi sejak runtuhnya Daulah Khilafah Utsmani.
Setelah runtuhnya payung Dunia Islam itu, bertubi-bertubi umat Islam didera berbagai persoalan. Di pentas dunia, kita menyaksikan saudara-saudara kita di Palestina masih harus terus hidup dalam penderitaan. Bukan hanya di Palestina, penderitaan juga dialami oleh umat Islam di berbagai belahan dunia lain seperti di Chechnya, Dagestan, Jammu Khasmir, Pattani Thailand, Moro Philipina, dan yang paling baru, penderitaan juga dialami oleh umat Islam di Afganistan dan Irak. Dengan dalih memerangi terorisme dan menghancurkan senjata pemusnah massal, AS dan sekutunya menggempur habis kedua negara itu dan kemudian mendudukinya hingga sekarang.
Sementara itu, di dalam negeri, kondisi umat Islam Indonesia juga tidak kalah memprihatinkan. Akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, lebih dari 100 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, kriminalitas meningkat di mana-mana, pornografi dan korupsi makin merajalela; ditambah dengan kebijakan pemerintahan yang ada, yang membuat hidup terasa sangat menyesakkan. Bagian terbesar dari mereka yang saat ini tengah menderita tentu saja adalah juga umat Islam.
Berbagai krisis tersebut merupakan fasad (kerusakan) yang ditimbulkan oleh karena kemaksiatan dan dosa-dosa yang dilakukan manusia (bi sababi ma’âshi an-nâs wa dzunûbihim). Maksiat adalah setiap bentuk pelanggaran terhadap hukum Allah atau syariat Islam, yakni melakukan yang dilarang dan meninggalkan yang diwajibkan. Setiap bentuk kemaksiatan pasti menimbulkan dosa. Setiap dosa pasti menimbulkan kerusakan (fasad).
Apa saja kemaksiatan yang selama ini telah kita lakukan? Banyak. Kita semua tahu, hingga detik ini negara kita masih menggunakan sistem sekular dalam menata kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam sistem ini, syariat Islam tidak pernah secara sengaja digunakan. Islam hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Sebagai gantinya, di tengah-tengah sistem sekularistik itu lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama: tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, serta sistem pendidikan yang materialistik.
Karena semua problem yang ada sesungguhnya berpangkal pada sistem yang lahir dari pandangan hidup yang salah, yaitu sekularisme, maka solusi fundamentalnya tentu tidak lain adalah dengan cara menghentikan sistem sekular itu dan menegakkan kembali seluruh tatanan berlandaskan pada syariat Islam.
Inilah yang secara syar‘i harus diperjuangkan oleh setiap gerakan Islam, yang secara historis juga dilakukan oleh Rasul, para sahabat, dan pejuang Islam sesudahnya. Semua itu terkait dengan kepentingan terbesar Islam sebagai sebuah ideologi (mabda’), yakni bagaimana mengubah masyarakat dari kondisi yang ada sekarang menuju tatanan masyarakat islami. Oleh karena itu, menjadi sangat jelas bahwa realitas sosial di setiap kurun dalam kacamata Islam bukan hanya untuk dipahami, tapi juga diubah dan dikendalikan. Ini berakar pada misi ideologisnya, yakni cita-cita untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat dalam kerangka mewujudkan nilai-nilai tauhidullah (mengesakan Allah).
Dalam rangka mencari titik temu antar gerakan Islam, penting disadari bahwa setiap gerakan Islam apa pun yang akan menegakkan kehidupan yang Islami pasti akan berhadapan dengan tiga pertanyaan pokok. Pertama, bagaimana gerakan itu melakukan penilaian terhadap masyarakat yang ada sekarang (melihat fakta masyarakat saat ini). Kedua, gambaran tentang tatanan masyarakat ideal seperti apa yang dicita-citakan (masyarakat seperti apa yang akan dituju). Ketiga, bagaimana perubahan masyarakat yang ada sekarang menuju masyarakat yang dicita-dicitakannya itu akan dilakukan (metode perubahan seperti apa yang akan dilakukan gerakan Islam).
Dengan demikian, semestinya paling sedikit ada tiga hal yang bisa menjadi titik kesamaan di antara gerakan-gerakan Islam: Pertama, kondisi umat Islam sekarang memang dalam keadaan terpecah-belah dan terpuruk di segala bidang. Singkatnya, mereka jauh dari apa yang dikatakan sebagai khayru ummah. Kedua, dengan demikian harus dilakukan upaya sungguh-sungguh untuk membangun umat yang bersatu dan unggul sehingga predikat khayru ummah benar-benar dapat diwujudkan kembali secara nyata. Ketiga, predikat khayru ummah tidaklah mungkin diujudkan kecuali umat hidup di dalam masyarakat yang islami, yang di dalamnya diterapkan syariat Islam dan dipimimpin oleh seorang imam.
Bahwa di antara gerakan-gerakan Islam terjadi perbedaan pendapat dalam memahami persoalan detail tentang syariat (termasuk konsep imamah). Ini adalah konsekuensi dari pengambilan khasanah referensi Islam yang dalam persoalan detail memang sangat dimungkinkan, dan ini tentu bukan persoalan. Yang penting, semua gerakan sama-sama menjadikan Syariat Islam sebagai rujukan dan juga sama-sama memahami pentingnya kepemimpinan bagi seluruh umat. Ibarat duduk, kita sudah berada di lantai yang sama. Insya Allah, segala perselisihan akan tidak sulit untuk diselesaikan.
Setiap individu muslim, kelompok dan gerakan-gerakan Islam lain adalah bagian dari umat, yang juga wajib diajak serta dalam perjuangan penegakan syariat Islam dan Khilafah. Dalam mengambil pendapat sangat bijaksana sebagaimana kata-kata Imam Syafi’i, yakni “Ra’yunâ shawâb yahtamilu al-khathâ’ wa ra’yu ghayrina khathâ’ yahtamilu ash-shawâb.” (Pendapat kami benar tetapi ada kemungkinan salah dan pendapat selain kami salah tetapi ada kemungkinan benar). Dengan pandangan semacam ini akan selalu terbuka pintu dialog.
Jadi, tidaklah tepat bila ada pihak yang mengatakan kafir atau sesat kelompok selainnya hanya karena berbeda pendapat dalam masalah detail dan memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat. Setiap kelompok yang menjadikan Islam sebagai aqidahnya dan Syariat Islam sebagai tolok ukur perbuatannya tentu merekalah yang paling layak menganggap dirinya orang beriman dan muslim.
Dengan menjadikan pegangan aqidah dan syariat Islam, antar gerakan Islam bukan tidak mungkin bekerjasama, tetapi bahkan wajib bekerjasama. Karena mereka sama-sama mememenuhi seruan Islam. Allah SWT menyeru kita untuk saling menolong dalam melakukan kebaikan dan takwa dan melarang saling menolong dalam berbuat dosa dan tercela. Yang paling minim adalah dalam bentuk husnu jiwâr (bertetangga baik). Maksudnya, kerjasama itu dilakukan dengan menjaga agar hubungan antargerakan tetap berlangsung baik. Untuk itu diperlukan komunikasi, khususnya di antara para pemimpinnya. Dengan komunikasi, saling pengertian dan kesepemahaman akan mudah diciptakan. Ini merupakan bekal penting untuk meningkatkan kerjasama yang lebih luas lagi.
Sementara itu kerjasama praktis lebih jauh dapat dilakukan misalnya, dalam merespon persoalan-persoalan umat yang nyata. Ini pernah dipraktikan, misalnya, ketika terjadi penyerbuan pasukan penjajah Amerika Serikat ke Irak dan Afghanistan, sikap yang sama dalam merespon agresi Israel ke Palestina, kerjasama dalam recovery Aceh agar tidak keluar dari koridor Syariat Islam, pensikapan yang sama dalam kasus Ambalat dan lain-lain.
Mewujudkan Ukhuwah, Menegakkan Syariah Dan Khilafah
Landasan ukhuwah sangat jelas. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara.” (Qs. al-Hujurât [49] : 10).
Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surat Ali-Imrân [3] ayat 103:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kalian dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nimat Allah orang-orang yang bersaudara.”
Imam Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, juz 1, hal. 477) menyatakan bahwa tali Allah (hablullah) adalah al-Qur’an yang diturunkan dari langit ke bumi. Siapapun yang berpegang teguh kepada al-Qur’an berarti ia berpegang kepada jalan lurus. Sementara itu, ayat tersebut merupakan perintah Allah SWT kepada mereka untuk berpegang pada al-jamâh dan melarang mereka dari tafarruq (bercerai-berai)
Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Muslim itu saudara seorang muslim, dia tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh. Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya; dan siapa saja yang membebaskan seorang muslim dari kesulitan, Allah SWT akan membebaskannya dari suatu kesulitan di hari kiamat; dan siapa saja yang menutupi aib sesama muslim niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.”
Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah SWT meridhai kalian tiga perkara dan memurkai kalian tiga perkara. Allah meridhai kalian jika kalian (1) menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun; (2) berpegang pada tali Allah dan tidak bercerai-berai; (3) sering menasihati orang yang diserahi Allah kekuasaan/wewenang untuk urusan pemerintahan kalian….” [HR. Muslim].
Juga sabdanya:
“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti bangunan yang saling memperkuat.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Mewujudkan ukhuwah Islamiyah adalah suatu kewajiban, bercerai berai diharamkan. Allah pun menyeru untuk tolong menolong dalam kebaikan dan takwa dan tidak tolong-menolong dalam berbuat dosa dan tercela. Lalu bentuk aktivitas apa yang paling layak umat Islam saling menolong?
Kemulian umat Islam ada pada Islam (yakni diterapkannya Syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari). Dengan tegaknya Islam umat Islam akan mulia, nyawa manusia akan terjaga, demikian pula akan terjaga aqidah, harta, akal, keturunan, kewibawaan dan negara. Sementara itu Syariat Islam hanya akan tegak dengan tegaknya Daulah Islam. Maka tolong menolong dalam menegakkaan Daulah Khilafah sehingga Syariat Islam dapat ditegakkan adalah bentuk tolong-menolong yang paling agung.
Khatimah
Begitu beratnya persoalan yang dialami umat Islam sehingga kerjasama antar gerakan Islam sangat penting. Makin besar persoalan yang dihadapi makin besar pula energi yang diperlukan untuk melakukan recovery. Upaya mengembalikan kemuliaan Islam tidak akan dilakukan kecuali oleh umat Islam sendiri. Oleh karena itu di samping gerakan Islam harus memiliki visi dan misi gerakannya dalam rangka mewujudkan kehidupan Islam tegaknya Syariat Islam di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah.
Kita yakin dengan janji Allah SWT sebagaimana firman-Nya:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan akan menukar keadaan mereka —sesudah mereka berada dalam ketakutan— dengan rasa aman.” (Qs. an-Nûr [24]: 55).

Temanmi di saat galau


mengetahui isi pokok-pokok ajaran alquran sangat penting bagi umat islam agar mengetahui AL-Qur'an secara global. kemudian, meneliti pokok ajaran al-quran tersebut, sehingga dapat mengi secara menyeluruh isi-isi al-quran. pendapat para ulama  diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. tujuh pokok-pokok al-quran , yaitu amr (perintah) , nahy (larangan) , Wa'ad (janji) , wa'id(ancaman) , jadl (perdebatan) , qashas (kisah-kisah), dan amtsal (perumpamaan) . pendapat yang lain amr-nahy, halal-haram, muhkam-mutasyabih, dan amsal.
  2. menurut Muhammad Rasyid  Ridha bahwa al-quran diturunkan membawa lima hal yaitu :akidahtauhid , janji dan ancamanibadah dan jalan menuju kemenangan.
  3. para ahli menyimpulkan bahwa pokok-pokok ajaran al-quran ada tiga yaitu akidahh akhlaq,dan ibadah.
fungsi al-quran 

setelah mengetahui pokok-pokok ajaran al-quran , selanjutnya kita dapat kita dapat memahami fungsi al-quran itu sendiri. Al-quran sebagai kitab syariat terakhir yang diturunkan juga memiliki tujuan dan misi kehadirannya , antara lain sebagai berikut :
  1. sebagai pedoman hidup manusia
    al-quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk serta pembela (antara yang hak dan yang batil)
  2. sebagai pembenar dan penyempurna kitab-kitab terdahulu
    dalam surah Ali imran ayat 3, Allah swt berfirman:

    "Dia menurunkan kitab ( al-quran ) kepadamu ( muhammad ) yang mengandung kebenaran, membenarkan ( kitab-kitab ) sebelumnya, dan menurunkan taurat dan injil."
  3. sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan
    Al-quran membawa berita gembira dan peringatan bagi orang-orang yang mengingkarinya. Disamping itu al-quran menjelaskan kriteria-kriteria golongan yang memperoleh berita gembira dan yang mendapatkan ancaman dan peringatan , perahatikan ayat berikut :

    "katakanlah ( muhammad ), ; aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat bagi dirimu kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghoib, niscaya aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." QS Ql-A'raf : 188
  4. sebagai sumber pokok ajaran islam
    Al-quran merupakan sumber pokok ajaran islam yang pertama. didalamnya terdapat keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh manusia untuk mengolah alam jagat raya ini. bahkan, sumber pokok tersebut tidak hanya mengantarkan manusia untuk bahagia didunia saja, tetapi juga bahagia di akhirat.



klik gambar







berjihad di jalan Allah

Kita sama telah memahami bahwa hukum berjihad di jalan Allah adalah wajib, sebagaimana firman Allah:
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar”. (QS. al-Furqan: 52)


Allah sangat mencintai hamba-Nya yang rela mengorbankan hidup duniawi demi meraih kebahagiaan ukhrawi di sisi-Nya kelak. Karena memang Allah telah menjanjikan balasan yang amat sangat besar terhadap mereka yang menganggap rahmat dan ampunan Allah lebih utama dari diri dan harta yang mereka miliki di dunia ini. Sebagaimana firman Allah swt.:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111)
Artinya, dalam hal ini penjual adalah orang-orang yang beriman, pembeli adalah Allah swt., harganya adalah surga, sementara barang dagangannya adalah amwal (harta) dan anfus (diri manusia). Barangkali semacam barter antara harta dan dan diri manusia dengan surga dari Allah swt.
Secara lahiriah, jihad diimplementasikan sebagai pembinaan kehidupan berasaskan Islam dalam setiap aspek kehidupan, meliputi; perekonomi Islam, sistem dan tata hidup berdasarkan Islam, pendidikan berasaskan Islam, kebudayaan bernafaskan Islam, dan lain sebagainya. Dalam mencapai ini semua, setiap manusia dituntut untuk bersungguh-sungguh ata berjihad dengan segala daya dan upaya, dan apabila harus berhadapan dengan pihak lain yang menantang diharuskan mengimbanginya walaupun dengan peperangan karena keadaan terpaksa.
Allah berfirman:
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. al-Baqarah: 190).
Firman-Nya pula:
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” (QS. al-Hajj: 39).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Quran yang menerangkan tentang jihad dalam bentuk peperangan. Akan tetapi Rasulullah SAW. menekankan tentang adanya jihad batiniyah, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Hal ini sebagaimana ucapan Rasulullah suatu ketika setelah beliau bersama sahabat dan laskar mujahidin Islam lainnya kembali dari sebuah peperangan dahsyat dengan kaum musyrikin, Rasulullah SAW bersabda :
“Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar”. Sahabat terkejut dan bertanya, “Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ?”  Beliau menjawab: “Peperangan melawan hawa nafsu.” (HR. al-Baihaqi).
Jihad melawan hawa nafsu dipandang lebih besar daripada jihad melawan orang-orang kafir, diantaranya disebabkan oleh beberapa hal berikut:
  1. Bila gagal, maka iman seseorang akan semakin berkurang.
  2. Bila gagal, maka neraka adalah ancamannya.
  3. Hawa nafsu tidak terlihat dan terkadang dianggap benar.
  4. Hawa nafsu selalu berada dalam diri manusia.
Melawan hawa nafsu atau mujahadatun nafsi sangat susah. Mungkin kalau nafsu itu ada di luar jasad kita dan bisa kita pegang, barangkali kita dapat dengan mudah menghancurkannya. Akan tetapi nafsu kita itu ada di dalam diri kita sendiri, mengalir dalam aliran darah dan menguasai seluruh tubuh kita. Oleh karena itu tanpa adanya kesedaran dan keinginan yang sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu, kita pasti dikalahkannya dan tidak tertutup kemungkinan kita diperalat dan diperhamba oleh hawa nafsu.
Nafsu jahat dapat dikenal melalui sifat keji dan kotor yang ada pada diri manusia. Seperti firman Allah:
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf: 53).
Dan hal ini dikuatkan lagi oleh sabda Rasulullah; “Musuh yang paling memusuhi kamu adalah nafsu yang ada di antara dua lambungmu “.
Dalam ilmu tasawuf, nafsu jahat dan liar itu dikatakan sifatmazmumah. Di antara sifat-sifat mazmumah itu ialah sum’ah, riya’, ujub, cinta dunia, gila pangkat dan jabatan, gila harta, banyak bicara yang tak berguna, banyak makan, suka menghasud, iri dan dengki, egois tinggi, pendendam, buruk sangka, mementingkan diri sendiri, pemarah, bakhil, sombong dan lain sebagainya. Sifat-sifat itu melekat pada hati seseorang laksana daki yang melekat pada kulit. Kalau kita malas mengikis sedikit demi sedikit sifat-sifat itu akan semakin tebal dan semakin sulit untuk dibersihkan.
Pada tahap selanjutnya, hawa nafsu ternyata menjadi pintu gerbang yang terbuka lebar bagi masuknya pengaruh syaithan dalam diri manusia tersebut yang menyebabkan seseorang semakin jauh dari kebenaran dan aqidah islamiyah. Inilah yang menjadi penghalang utama dan pertama seseorang jauh dari rahmat Allah, kemudian barulah syaitan dan golongan-golongan yang lain.
Begitu juga, melawan hawa nafsu lebih sulit daripada melawan musuh dalam selimut, karena musuh dalam selimut masih dapat dilihat. Sementara hawa nafsu berada dalam diri kita, persis seperti kita melawan diri sendiri. Di satu sisi kita harus hidup dengan sejumlah kebutuhan dan keinginan, namun di sisi lain kita juga harus memusuhi kebutuhan hidup apabila kebutuhan tersebut bertentangan dengan ketentuan dan ajaran Islam.
Hawa nafsu jahat senantiasa menjadi penghalang dalam setiap langkah hidup, tenaga pendorong yang mampu memutarbalikkan fakta dan kebenaran. Apabila tidak memiliki kontrol yang ketat, fakta dan kebenaran dapat saja menjadi sesuatu yang harus didustakan sehingga kehidupan menjadi gelap dan semakin tersesat dari kebenaran.
Oleh karena itu, kita dituntut untuk tetap menjadi raja bagi nafsu dan diri kita sendiri.

Kamis, 14 Juni 2012

Mp3 Hadits Arbain d


Alhamdulillah..postingan kedua ini, mau share Mp3 hadits Arba'in nih. Barangkali kawan2 semua ad yang membutuhkan..Cekidot!!

Ada bonus buku 
HADITS ARBA'IN NAWAWIYAH karangan Muhyiddin Yahya Bin Syaraf Nawawi yang sudah di terjemahkan oleh Abdullah Haidir terdiri dari 119 halaman, tersedia dalam 2 format file Word 2003 & PDF.

Mp3 Hadits Arbain di susun berdasarkan no hadits ..
  1. Hadits 1 tentang Niat
  2. Hadits 2 tentang Islam, iman, ihsan dan kiamat
  3. Hadits 3 tentang Rukun Islam
  4. Hadits 4 tentang Kejadian dan amal manusia
  5. Hadits 5 tentang Bid'ah
  6. Hadits 6 tentang Halal, haram dan syubhat
  7. Hadits 7 tentang Agama adalah nasehat
  8. Hadits 8 tentang Tugas Rasulullah saw
  9. Hadits 9 tentang Jauhi apa yang dilarang, kerjakan apa yang diperintah
  10. Hadits 10 tentang Allah swt hanya menerima yang baik
  11. Hadits 11 tentang Tinggalkan apa yang meragukan
  12. Hadits 12 tentang Baiknya keislaman seseorang
  13. Hadits 13 tentang Kesempurnaan iman
  14. Hadits 14 tentang Halalnya darah seorang muslim
  15. Hadits 15 tentang Bagaimana beriman pada Allah swt dan hari akhir
  16. Hadits 16 tentang Jangan mudah marah
  17. Hadits 17 tentang Berlaku baik atas segala sesuatu
  18. Hadits 18 tentang Menghapus kejahatan dengan kebaikan
  19. Hadits 19 tentang Penjagaan dan ketentuan Allah swt atas diri seseorang
  20. Hadits 20 tentang Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu
  21. Hadits 21 tentang Iman dan istiqomah
  22. Hadits 22 tentang Apakah aku masuk syurga jika ...
  23. Hadits 23 tentang Amal manusia
  24. Hadits 24 tentang Kekuasaan Allah swt
  25. Hadits 25 tentang Sedekah
  26. Hadits 26 tentang Perbuatan yang termasuk sedekah
  27. Hadits 27 tentang Fatwa hati
  28. Hadits 28 tentang Nasehat Rasulullah
  29. Hadits 29 tentang Amal yang memasukkan ke dalam syurga
  30. Hadits 30 tentang Beberapa kewajiban dari Allah
  31. Hadits 31 tentang Zuhud
  32. Hadits 32 tentang Jangan saling memudharatkan
  33. Hadits 33 tentang Tuntutan
  34. Hadits 34 tentang Bukti keimanan
  35. Hadits 35 tentang Muslim yang bersaudara
  36. Hadits 36 tentang Amal dunia menolong manusia di akhirat
  37. Hadits 37 tentang Pahala kebaikan dan dosa kejahatan
  38. Hadits 38 tentang Taqarrub kepada Allah
  39. Hadits 39 tentang Maaf Allah swt
  40. Hadits 40 tentang Jadilah seorang pengembara
  41. Hadits 41 tentang Ketidak sempurnaan iman
  42. Hadits 42 tentang Wahai anak Adam

    Nah selesai deh untuk mp3... untuk penjelasan kandungan hadits, sebab hadits turun, tema hadits yang berkorelasi dengan ayat Al Quran sahabat bisa download buku HADITS ARBA'IN NAWAWIYAH karangan Muhyiddin Yahya Bin Syaraf Nawawi yang sudah di terjemahkan oleh Abdullah Haidir terdiri dari 119 halaman, tersedia dalam 2 format file Word 2003 & PDF, silahkan pilih sesuai kebutuhan sahabat
    1. HADITS ARBA'IN NAWAWIYAH.pdf untuk versi PDF
    2. HADITS ARBA'IN NAWAWIYAH.doc untuk Word 2003


      Sumber
      http://www.islamhouse.com/s/10523
      http://masbadar.wordpress.com/

      kembali Kejayaan Islam PRS (Pengusaha Rindu Syariah)

      Model Pengelolaan Kekayaan Alam dan Energi dalam Islam
      View more PowerPoint from Erwin Wahyu

      Slide dari para guru -guru menuju kebangkitan tegaknya khilfah kembali Kejayaan Islam  .