Selasa, 03 Juli 2012

dINAS KEBERSIHAN IMAN




1. remaja, masa dimana bermekaran semua | tidak hanya cita ataupun rasa, tapi juga mulai dihampiri cinta
2. awalnya dekat itu biasa, namun kala remaja berubah jadi getar asmara | segala terasa indah, setiap hari jadi berwarna
3. salahkah cinta sebabkan rasa pada manusia? | tidak pernah sayang, tidak pernah Allah karuniakan selaksa cinta untuk menyiksa
4. Allah turunkan cinta bagi manusia sebagai tanda | bahwa kita bisa berkeluarga, mampu lanjutkan keturunan dalam satu bahtera asa
5. maka tak ada yang salah dengan cinta | masalahnya adalah bagaimana kita menyalurkan cinta dlm bentuk pergaulan, khususnya remaja
6. Islam mengatur agar tak salah jalan | arahkan manusia yg telah memiliki cinta untuk dikukuhkan dalam ikatan pernikahan
7. pernikahan membuat segala bentuk cinta menjadi halal berpahala dan penuh kenikmatan | sebagai hadiah Allah buat insan
8. namun sebelum pernikahan, semua bentuk cinta dihijab larangan | karena Allah tau yg terbaik bagi manusia yg Dia ciptakan
9. lalu bagaimana dengan remaja? | apakah yg harus dilakukan dengan cinta yang belum seharusnya? karena terhalang sekolah dan cita-cita?
10. bagi mereka Islam perintahkan berpuasa | jauhkan diri dari rangsangan fisik semacam memandang, mendekat atau berkhalwat ria
11. Rasul lisankan, "berdua-duaan dengan wanita tanpa disertai oleh mahram si wanita, yg ketiganya adalah setan” (HR Bukhari dan Muslim)
12. dari sini kita dapatkan hukum berpacaran | bahwa ia adalah interaksi yg dilarang dalam Islam secara mutlak
13. tapi anak muda memang selalu biasa cari alasan | lupa bawa pembenaran itu beda tipis dengan kebenaran
14. pacaran itu penambah semangat belajar | "oh, teori, yg terjadi kebanyakan sebaliknya kawan, lagipula bukankah harusnya lillahi ta'ala?"
15. pacaran itu sebuah nada cinta, bukankah Allah Maha Cinta? | "betul, makanya Allah perintahkan nikah, bukan pacaran"
16. pacaran itu penjajakan pra-nikah | "itulah lelaki yg miskin tanggung jawab, 'penjajakan' dahulu, bukan komitmen akad nikah dahulu"
17. pacaran supaya tak beli kucing dalam karung | "banyak yg pacaran lama nikah sejenak saja,:)
18. pacaran itu bikin hidup lebih hidup | "iyakah? bukankah dominasi penggalau karena berpacaran?"
19. pacaran itu bukan apa-apa kok, kita have some fun aja | "nah akhirnya, inilah perkataan paling jujur tentang pacaran"
20. saya pacaran untuk ajarkan Islam pada pacar | "Islamnya belum tentu sampai, maksiatnya sudah pasti, niat baik harus dikawani cara baik"
21. saya nggak lakukan apapun, tak pegangan tangan, tiada interaksi fisik | "sekalian sempurnakan tak usah pacaran lebih ok"
22. kaum lelaki, coba pikirkan, bila anda benar sayang padanya, tentu tak ingin kulitnya disentuh api neraka dengan maksiat pacaran bukan?
23. kaum lelaki, coba pikirkan, andaikan anda benar sayang padanya, tentu tak akan korbankan masa depannya dengan maksiat pacaran bukan? 
24. kaum wanita, coba pikirkan, andaikan telah berani maksiat bahkan sebelum menikah, apa yang menjamin taatnya setelah menikah?
25. kaum wanita, coba pikirkan, tidak inginkah anda menjadi yang pertama bagi suami nantinya? pertama disentuh tangannya, hatinya?
26. bagi remaja, cukuplah interaksi lelaki-wanita saat syariat bolehkan, tegur sapa secukupnya, tiada lebih daripada itu
27. bagi remaja, jadi bila memang cintamu karena Allah, maka engkau sanggup bertemu karena Allah, pula sanggup berpisah karena-Nya
28. bagi remaja, bila engkau belum sanggup menikah, maka cinta harus ditangguh | pacaran? udah putusin aja

International Muslim Students Summit 2012


saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan, sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung usaha maksimal.." - Harun Al Rasyid

teruslah bergerak, karena sungguh.. tak akan pernah menyesal seorang muslim yang berikhtiar, kemudian bertawakal kepada Rabbnya, lantas ia memperoleh kemenangan yang telah dijanjikan..


Pada detik-detik terakhir,
Kekhawatiran kita bukanlah terletak pada menang atau kalah,
Tapi pada bagaimana cara kita menjemput kemenangan yang Ia janjikan.

Sesungguhnya kemenangan hanya pantas diterima oleh mereka yang berjuang













Agenda Jadwal Kegiatan #IndonesiaTanpaJIL Chapter Jogja


Agenda Jadwal Kegiatan #IndonesiaTanpaJIL Chapter Jogja Bulan Juli 2012. Keren banget ini @ITJJogja !

Kamis, 5 Juli 2012
pkl. 15:30 s/d 17:00
dalam Jogja Islamic Book Fair
di Gedung Olah Raga Universitas Negeri Yogyakarta (GOR UNY)
Diskusi Jama'ah Shalahuddin Ugm "Ramadhan Tanpa JIL"
bersama Akmal Sjafril (Penulis Buku 'Islam Liberal 101')

Ahad, 8 Juli 2012
pkl. 08:00 s/d 11:00
Aksi Forum Silaturahim Remaja Masjid Yogyakarta
Pembagian Jilbab di Perempatan Kantor Pos Besar YK
dengan disertai pembagian Buletin dari #ITJ Jogja

Ahad, 8 Juli 2012
pkl. 15:30 s/d selesai
dalam Jogja Islamic Book Fair
di Gedung Olah Raga Universitas Negeri Yogyakarta (GOR UNY)
Aksi Sebar Buletin #ITJ Jogja

Ahad, 8 Juli 2012
pkl. 15:30 s/d selesai
dalam Jogja Muslim Fair
di Gdg. Mandala Bakti Wanitatama Yk
Aksi Sebar Buletin #ITJ Jogja

CP: 0813 2815 4565



Sabtu, 30 Juni 2012

Keajaiban Sholat Tepat waktu dan sedekah





Banyak yang mau berubah, tapi memilih jalan mundur. Andakah orangnya? Semoga kisah berikut ini bisa memberikan hikmah yang luar biasa. Kisah orang yang ingin berubah dengan menempuh jalan maju. Maju menuju sumber keajaiban.

Satu hari saya jalan melintas di suatu daerah. Tertidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya, “Nanti di depan ke kiri ya…”

“Masih banyak, Pak Ustadz…”

Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan. Saya pengen buang air kecil. Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang petugas security (satpam).

“Pak Ustadz!”, dari jauh ia melambai dan mendekati saya. Saya menghentikan langkah, menunggu beliau.

“Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja…”. Saya senyum saja. Nggak ke-geer-an, insya Allah, he he he. “Saya ke toilet dulu ya”.

“Nanti saya ingin ngobrol, boleh Ustadz?”

“Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?”

“Saya bosan jadi satpam, Pak Ustadz.”

Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang “berhentiin” saya. Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh, nemu pom bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya kudu bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali “target operasi” dakwah hari ini. Bukan jadwal setelah ini. Begitu pikir saya.

Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, “Ok, ntar habis dari toilet ya”.

***

“Jadi, bagaimana? Bosen jadi satpam? Emangnya nggak gajian?”, tanya saya membuka percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini. Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimartnya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan.

“Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini saja?”

“Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya memang sudah begitu. Distel kayak apa juga, agak susah untuk merubahnya” .

“Wah, ustadz langsung nembak aja nih”.

Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah. Tapi umumnya begitulah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama Allah nggak mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya begitu-begitu saja.

“Sudah shalat Ashar?”

“Barus saja, Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya ga? Ya saya pikir sama saja.”

“Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ (kamu) pikir kerja situ adalah juga ibadah?”

Sekuriti itu senyum saja.

Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga tidak. Cuma sebatas omongan doang. Lagian, kalo menganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa yang kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai ibadah. Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong dah tuh kerjaan adalah ibadah.

Misalnya lagi, kita niatkan usaha kita sebagai ibadah, boleh ga? Bagus malah. Bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita menerima tamu, sementara Allah datang. Artinya kita menerima tamu pas waktu shalat datang, dan kemudian kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka yang demikian masihkah pantas disebut usaha kita adalah ibadah? Apalagi kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, untuk Allah-nya lebih sedikit ketimbang untuk kebutuhan-kebutuhan kita. Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh sebutan-sebutan ibadah.

“Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam 5 nih masuk ke pom bensin ini”, saya mengejar.

“Ya, kurang lebih dah“, jawab satpam.

Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang ‘alim, bahwa shalat itu harus tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut perhatian sama Yang Memberi Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu.

Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.

Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu kan jadi sama saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka lalu saya ingatkan sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang Allah sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.

“Begini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima, memang untuk mengejar ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu setengah jam andai Ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang sedikit. Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan sejak akil baligh, sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka berapa jarak ketertinggalan kita tuh? 5 x satu setengah jam, lalu dikali sekian hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan dikali lagi sekian tahun kita telat. Itu baru telat saja, belum kalo ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih bahayanya lagi kalau bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja mestinya kita dari senang”.

Percakapan ini kurang lebih begitu. Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari raut mukanya, nampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara ya? He he he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini kudu nanya paham apa engga sama lawan bicara?

Saya katakan pada dia. Jika dia lulusan SMU, yang selama ini telat shalatnya, maka kawan-kawan selitingnya mah sudah di mana, dia masih seperti diam di tempat. Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha, sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak. Dan saya mengingatkan kepada pembaca untuk tidak menggunakan mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan yang satu yang rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya susah.

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup kompleks. Tapi bisa diurai satu-satu dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat dengan fakta. Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian.

Kembali kepada si sekuriti, saya tanya, “Terus, mau berubah?”

“Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalau ga serius?”

“Ya sudah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah-nya”.

“Ngebut gimana?”, tanya sekuriti.

“Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat Asharnya. Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah. Jangan sampai keduluan Allah”.

Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan sudah standby di atas sajadah. Kita ini ingin rizkinya Allah, tapi tidak kenal sama Yang Membagikan Rizki. Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini. Kan aneh. Dia bekerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran Allah memanggil, sedang Allah-lah Tuhan yang sejatinya menjadikan seseorang bekerja, malah kelakuannya seperti tidak menghargai Allah. Bertemudengan klien kita rapih,wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu Allah, amit-amit pakaiannya, tidak ada persiapan, dan tidak segan-segan menunjukkan wajah dan fisik lelahnya. Ini namanya tidak kenal sama Allah.

“Yang kedua,” saya teruskan.



“Yang kedua, keluarin sedekahnya.”

Saya inget betul, sekuriti itu tertawa. “Pak Ustadz, bagaimana mau sedekah, hari gini saja nih, sudah pada habis belanjaan. Hutang di warung juga terpaksa dibuka lagi. Alias sudah mulai ngambil dulu bayar belakangan.”

“Ah, entenya saja kali yang kebanyakan beban. Memang gajinya berapa?”

“Satu koma tujuh, Pak ustadz”.

“Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang sering sebut orang kecil, itu udah gede”.

“Yah, kan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz”.

“Itu kerja gaji bisa gede, memang sudah lama kerjanya?”

“Kerjanya sih sudah tujuh tahun. Tapi gede gaji bukan karena sudah lama kerjanya. Saya ini kerjanya pagi-siang-sore-malam, ustadz”.

“Koq bisa?”

“Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos bagaimana gitu sampe ketemu angka 1,7 juta”.

“Terus, kenapa masih kurang?”

“Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak…”

“Secara dunianya, lepas saja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan ga perlu?”

“Pengen kayak orang-orang, Pak Ustadz”.

“Ya susah kalau begitu mah… Pengen kayak orang-orang: motornya. Bukan ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot”.

Sekuriti ini nyengir. Memang ini motor kalau dilepas, dia punya 900 ribu. Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Tidak jelas tuh dari mana dia nutupin kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan listrik. Kalau melihat keuangan model begini, ya nombok dah jadinya.

“Ya sudah, sudah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya bagaimana? Mau diubah?”

“Mau Ustadz. Saya benahin dah“.

“Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sandal, lakukan berdua. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin. Ikutan semuanya membenahi shalat”.

“Siap ustadz”.

“Tapi sedekahnya tetap kudu loh“.

“Yah Ustadz. Kan saya sudah bilang, tidak ada”.

“Sedekahin saja motornya. Kalo engga, apa keq…“.

“Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya. Tabungan juga ga ada. Emas juga ga punya”.

Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya akan cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya saja, tapi sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul. Setidaknya menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain. Ya lain soal itu mah.

Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti, “Kang, kalo saya tunjukin bahwa situ bisa sedekah, yang besar lagi sedekahnya, situ mau percaya?”

Si sekuriti mengangguk.

“Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?” .

Sekuriti ini mengangguk lagi. “Selama saya bisa, saya akan jalanin,” katanya, mantap.

“Gajian bulan depan masih ada ga?”

“Masih. Kan belum bisa diambil?”

“Bisa. Dicoba dulu”.

“Entar bulan depan saya hidup bagaimana?”

“Yakin ga sama Allah?”

“Yakin…”

“Ya kalau yakin, titik. Jangan koma. Jangan pakai kalau…”

Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapatnya. Tapi usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya sehingga perubahannya terasa. Dia janji akan membenahi mati-matian shalatnya. Termasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha dan tahajjudnya. Dia juga janji akan lebih rajin di waktu senggang untuk membaca Al Qur’an.

Perasaan sudah lama banget dia memang ga lari kepada Allah. Shalat Jum’at saja nunggu iqomat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan itu dia aminin. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi!

Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia tidak betah dengan posisinya sebagai sekuriti. Tidak kena di hati. Tidak sesuai sama rencana. Tapi ya begitu dah hidup. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang penting kerja dan ada gajinya. Bagi saya sendiri, tidak mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan itu keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan tidak apa-apa juga memimpikan sesuatu yang belum kesampaian sama kita. Asal apa? Asal kita barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang ini, biarkan saja harga barang pada naik. Tidak usah khawatir. Ancam saja diri, agar mau menambah ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha. Akhirnya hidup termakan dengan tingginya harga. Tidak kebagian.

***

Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya untuk apa? Dia nyengir tidak menjawab. Tetapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, “Pol. Satu koma tujuh (1,7 juta). Semuanya…”

“Mana bisa?” kata komandannya.

“Ya Pak, saya kan tidak pernah kasbon. Tidak pernah berani. Baru ini saya berani.”

Komandannya terus mengejar, untuk apa? Akhirnya mau tidak mau sekuriti ini menjawab dengan menceritakan pertemuannya dengan saya. Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk bertemu langsung dengan owner pom bensin. Katanya, kalau pakai jalur formal, dapat kasbonan 30% saja belum tentu lolos cepat. Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui. Sebab komandannya ini ikutan merayu, “Buat sedekah katanya Pak”, begitu kata komandannya.

Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab cerita si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah pertemuannya dengan saya, menjadi kisah yang dinanti the end story-nya. Termasuk dinanti oleh bosnya.

“Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya”, begitulah pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah.

Hari demi hari, sekuriti ini dilihat oleh kawan-kawannya rajin betul shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah sunnahnya. Bosnya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat kerjanya menjadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi shaleh begini. Apalagi kenyataannya si sekuriti tidak mengurangi kedisiplinan kerjaannya. Malah tambah cerah mukanya.

Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan dia tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal dengan catatan dia berhasil dulu.

Saya tertawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa, saya demen sama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal diam. Dan barangkali akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si sekuriti. Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah (contoh yang baik) bagi yang belum punya iman. Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah pasti tidak akan mempermalukan-Nya juga, sebagaimana Allah tidak akan mempermalukan si sekuriti.

Suatu hari bos sekuriti pernah berkata, “Kita lihatin nih dia. Kalau dia tidak kasbon (hutang) saja, berarti dia berhasil. Tapi kalau dia kasbon, maka kelihatannya dia gagal. Sebab untuk apa sedekah satu bulan gaji di depan yang diambil di muka, kalau kemudian kasbon. Percuma…”

Tapi subhaanallaah, sampai akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini tidak kasbon. Berhasilkah?

Tunggu dulu… Kawan-kawannya ini tidak melihat motor besarnya lagi. Jadi, tidak kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman karena menjual motor. Bukan dari keajaiban mendekati Allah. Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya.

“Benar nih, ga kasbon? Sudah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian. Sedang situ kan sudah diambil bulan kemarin”.

Sekuriti ini bilang tadinya sih dia sudah siap-siap memang mau kasbon kalau sampai pertengahan bulan ini tidak ada tanda-tanda. Tapi kemudian cerita si sekuriti ini benar-benar bikin bengong semua orang.

Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia membenahi shalatnya, dan dia sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya di bulan depan yang dia pertaruhkan. Terjadilah keajaiban…

Di kampung, ada transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya tidak terlibat secara fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan penjual. Katanya, dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10 x lipat. Bahkan lebih. Dia sedekah 1,7 juta gajinya. Tapi Allah mengaruniainya komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5 juta. Dan itu terjadi begitu cepat. Sampai-sampai bulan kemarin juga belum selesai. Masih tanggalan bulan kemarin, belum berganti bulan.  Sadar kekuatannya sampai seperti itu, akhirnya dia malu sama Allah. Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya melek-melek untuk sedekah. Tuh motor dia pakai untuk memberangkatkan ibadah haji satu-satunya ibunya yang masih hidup.

Subhaanallaah kan? Itu jual motor, kurang. Sebab itu motor dijual cepat harganya tidak nyampe 13 juta. Tapi dia tambahin 12 juta dari 17 jt uang cash yang dia punya. Sehingga ibunya punya 25 juta. Tambahannya dari simpanan ibunya sendiri.

Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta sisa transaksi. Dan dia merasa tidak perlu lagi motor. Dengan uang ini, ia aman. Tidak perlu kasbon. Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu mengumpulkan semua karyawannya, dan menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya selama satu setengah bulan ini.

Apakah cukup sampai di situ perubahan yang terjadi pada diri si sekuriti?

Tidak…

Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain, dan dijadikan staf keuangan di sana. Masya Allah, masya Allah, masya Allah. Berubah, berubah, berubah!

Saudara-saudaraku sekalian. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. Soal keyakinan dan iman seseorang kepada Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan! Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini dipakai sama dia, dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh untuk perubahan dirinya, untuk perubahan hidupnya.

Subhaanallaah, masya Allah…

Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini? Kayaknya kawan-kawan se-pom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak suksesnya si sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia.

Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar. Pertanyaan ini layak juga diajukan kepada pembaca yang saat ini membaca kisah ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa sajakah? Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di mana pom bensinnya? Bisakah kita bertemu dengan orang aslinya? Berdoa saja. Sebab kenyataannya juga untuk saya tidak gampang menghadirkan testimoni aslinya. Semua orang punya prinsip hidup yang berbeda.

Di antara semua pembaca saja ada yang insya Allah saya yakin mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini. Sebagiannya memilih diam saja, dan sebagiannya lagi memilih menceritakan ini kepada satu dua orang saja, dan hanya orang-orang tertentu saja yang memilih untuk benar-benar terbuka untuk dicontoh. Dan memang bukan apa-apa, ketika sudah dipublish, memang tidak gampang bagi seseorang menempatkan dirinya untuk menjadi contoh.

Yang lebih penting bagi kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini mengisnpirasikan kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh kisah ini. Kita ngebut sengebut-ngebutnya menuju Allah. Yang merasa dosanya banyak, sudah, jangan terus-terusan meratapi dosanya. Kejar saja ampunan Allah dengan memperbanyak taubat dan istighfar, lalu mengejarnya dengan amal shalih.

***

[Catatan: Kisah ini diambil dari essay Kuliah Online Ustadz Yusuf Mansur, saya sajikan kepada pembaca semata-mata agar semoga ada manfaat dan teladan yang bisa kita ambil]





Masihkah kita sombong


Sungguh Maha Besar, Melihat Ciptaan-Nya saja Kita tidak mampu apalagi Melihat Allah SWT, Renungkanlah bahan bacaan di bawah ini semoga kita terhindar dari Perbuatan Sombong. Sesungguhnya kita Sangat Kecil di Mata ALLAH SWT.
Tim unikaneh.com mendapatkan beberapa gambar mengenai perbandingan ukuran bumi, diantara beberapa bagian di jagat raya ini.


Gambar menunjukkan besar bumi dibandingkan dengan planet2 yang ukurannya lebih kecil, yaitu : Venus, Mars, Mercury, dan Pluto.

Lalu kita lihat gambar di bawah ini…




Ini bumi dibandingkan dengan planet2 yang lebih besar.. Ada Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Selanjutnya…


Perhatikan Bumi apabila dibandingkan dengan Matahari.

Next…


Apabila dibandingkan dengan Arcturus, Matahari saja sudah terlihat sangat kecil, apalagi Bumi.

Sampai sini…


Dan disini matahari sudah tak terlihat, bagaimana dengan bumi..?
Dengan perbandingan diatas tadi, setidaknya kita menjadi sadar betapa kecilnya bumi, apalagi kita sebagai penghuninya. Terbayang jelas jagat raya yang sangat besar pada gambar skala-skala diatas. Bumi kita tidak kelihatan lagi di sini , bahkan matahari hanya sebesar debu.

Antares adalah bintang ke-15 yang paling terang di angkasa. Sebenarnya masih banyak yang lebih besar lagi dari Antares, tapi belum ada bukti dan bahkan satelit huble tercanggihpun belum bisa memotretnya.
Saya sempat berpikir juga… Siapakah kita…?
Layakkah kita sombong dihadapan ALLAH ?
Apakah tujuan hidup kita…?
Apa yang membuat hidup kita, manusia, berharga, mulia dihadapan ALLAH…?
Bumi saja yang menurut kalian besarnya cuma setitik, gimana kalian yang sangat kecil??? jadi.. tidaklah pantas manusia berjalan di atas muka bumi ini dengan sombong terhadap sesama makhluk Allah, apalagi berlaku sombong terhadap Penciptanya, Yang Maha Besar, Allah SWT.

http://votreesprit.wordpress.com/2012/01/20/masihkah-anda-sombong-setelah-melihat-gambar-ini/

Rahasia Warna Langit Ketika Waktu Shalat



“Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Ini karena spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga kerana mereka beresonansi dengan alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan juga sebaiknya berhenti dahulu pada waktu ini (solat Maghrib dulu ). Rahasia waktu Maghrib atau warna merah ialah keyakinan, frekuensi otot, saraf dan tulang.



Tahukah anda bahwa warna merah yang dipancarkan oleh alam ketika itu mempunyai resonansi yang sama dengan jin dan syaitan. Kita lebih baik untuk berada di dalam rumah pada waktu magrib ini.”

oooh pantesan… hawa setan ternyata.. Berikut hasil search lengkapnya :

1. Waktu Subuh
Suka perhatiin ga, kalau waktu selepas subuh apalagi menjelang siang, warna langit itu (kalau cerah) berwatna biru yang diselingi dengan merah (orange) yang dihasilkan oleh sinar mentari yang mau terbit.

Dalam islam tidur setelah subuh itu ga boleh gan karena akan ketinggalan rizki. Seperti Sabda Rasulullah,
“Ya Allah berikanlah berkah kepada umatku di pagi harinya”
(HR. Abu Dawud no. 2606, Tirmidzi no. 1212, Ibnu Majah no. 2236, shahih
At-Targhiib waTarhiib no, 1693)


Selain itu, mengapa kita tidak dibenarkan tidur selepas subuh adalah karana warna biru mempertenagakan kelenjar tyroid. Bila kelenjar tyroid kita lemah seseorang itu akan mengalami masalah kehausan sepanjang hari.

Pada Waktu Subuh Alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisma tubuh. Jadi warna biru muda atau waktu Subuh mempunyai rahasia yang berkaitan dengan rizki dan komunikasi. Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rizki.
Ini karena tenaga alam yaitu biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang mesti berlaku dalam keadaan roh dan jasad dalam keadaan tidur dalam arti kata lain lebih baik terjaga daripada tidur. Disini juga dapat kita ambil hikmah untuk solat di awal waktu.

Bermulanya saat azan Subuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum. Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonansi pada waktu rukuk dan sujud. Jadi mereka yang terlewat Subuhnya sebenar sudah mendapat tenaga yang tidak optimum lagi.

2. Waktu Dzuhur
Ketika ini warna kuning mendominasi atmosfera. Mengurangi makan pada waktu kuning (siang hari) ialah amalan yang terbaik untuk menjaga supaya pemikiran menjadi kreatif, tajam, dan peka. Ini adalah mengapa kita amat digalakkan untuk melakukan puasa sunah Senin dan
Kamis untuk menggurangi beban kerja organ pencernaan.

Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem pencernaan. Warna kuning ini mempunyai rahasia yang berkaitan dengan keceriaan. Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang- ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya.

3. Waktu Ashar
Kemudian warna alam akan berubah kepada warna orange, yaitu masuknya waktu Ashar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovarium dan testis yang merangkumi sistem reproduktif.

Rahasia warna orange ialah kreativitas. Orang yang kerap tertinggal Asar akan hilang daya kreativitasnya dan lebih malang lagi kalau di waktu Asar dipakai buat tidur.

4. Waktu Magrib
Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Ini karena spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga kerana mereka beresonansi dengan alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan juga sebaiknya berhenti dahulu pada waktu ini (solat Maghrib dulu ). Rahasia waktu Maghrib atau warna merah ialah keyakinan, frekuensi otot, saraf dan tulang.

Tahukah anda bahwa warna merah yang dipancarkan oleh alam ketika itu mempunyai resonansi yang sama dengan jin dan syaitan. Kita lebih baik untuk berada di dalam rumah pada waktu magrib ini.

5. Waktu Isya
Apabila masuk waktu Isya, alam berubah ke warna merah dan seterusnya memasuki fasa Kegelapan. Waktu Isya ini menyimpan rahasia ketenteraman dan kedamaian dimana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak.

Mereka yang kerap ketinggalan Isyanya akan selalu berada dalam kegelisahan. Alam sekarang berada dalam Kegelapan dan sebetulnya, inilah waktu tidur dalam Islam dimana keseluruhan sistem
tubuh berada dalam keadaan relax / istirahat.
http://jamaahmasjid.blogspot.com/2012/02/rahasia-warna-langit-ketika-waktu.html

Biasakan STW (Shalat Tepat Waktu)






teringat akan ceramah Ustadz Yusuf mansur dalam suatu ceramahnya, yang cuplikannya seperti ini :

“di jaman saya masih muda dulu, kira di tahun 95an , perusahaan yang saya miliki tumbuh sangat pesat,  setiap bulannya menghasilkan laba 30juta an , jaman pada waktu msh belum krisis moneter seperti itu ,  yang kira2 uang segitu bisa menghasilkan mobil kijang , karena untuk beli mobil kijang di jaman tersebut dapet tuh seharga 20juta an. Artinya sebulan dapet mobil kijang masih ada kembalian lagi.

tp di jaman itu saya msh berantakannya , terutama hubungan saya dengan maha kuasa, saya sholat sih , tp sholatnya sama kayak yang lain , dhuhur jam setengah 3 , biar deketan ama ashar, shubuh& isya sering telatnya , yang tepat waktu cuman 1 yaitu megriban doang, sholat gak ada ba’diyahnya gak juga qoblyahnya, jamaah apalgi ! SESUNGGHNYA saya teringat dengan almarhum Bapak saya bahwa yang saya dapatkan itu hanyalah sampah

terbukti saya langsung diinjek ama Alloh ,  utang saya di tahun 2000 mencapai 2M , usaha saya bangkrut total ,akibatnya saya langsung tersadar , saya tidak akan bisa menanggung beban sebesar itu kecuali atas bantuan Alloh SWT cuman masalahnya bagaimana kita bisa mendapatkan bantuan Alloh?? itu yang yang saya pikirkan waktu itu , bagaimana membuat Alloh berkehendak membantu saya?? Bagaimana mendapatkan ridho Alloh yang saat itu terasa begitu jauh?

saya tersungkur , saya cek apa yang menyebabkan keadaan menjadi seperti ini, ketika saya mulai instropeksi saya mulai menyadari , banyak hak hak terhadap Alloh yang tidak saya tunaikan , sholatnya sering lalai ,  orang tua sering saya kecewakan akibat perilaku saya yang terkadang kelewat batas , saya dulu pernah menjual sertifikat tanah tanpa ada restu dari orang tua , tp sekarang alhamdulillah mereka sudah merestuinya.

Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari)


Saya mulai tobat , saya benerin sholat saya , saya banyakin sedekahnya, saya banyak berisghfar, meminta ampun kepada Alloh ,  meminta restu kepada orang tua . pokoknya saya melakukan cara cara yang diajarkan oleh para guru pesantren saya , para orang tua yang sudah didasarkan pada alhadist dan alquran.

saya inget bener , saya yang waktu itu hutangnya banyak , saya kerjanya cuman bisa ngajar di madrasah , yang gajinya seminggu cuman 50rb -100rb perak , sebagian besar dari gaji tersebut saya sedekahkan, sisanya saya buat makan untuk saya dan keluarga saya. di kala susah tersebut alhamdulillah saya bisa melaksanakan sholat tahajjud 2 tahun berturut turut tanpa putus ,  begitu terus dan Alhammdulillah di tahun 2004 hutang saya lunas, hidup saya berubah total , sebagai tambahan saya dapat hadiah, hadiahnya saya dijadikan oleh sebagai Ustadz di Indonesia, negeri yang amat kita cintai.

cara alloh bukan cara cara manusia , banyak tidak terpikir dengan cara caraNya yang tidak terbatas , yang tak dimasuk logika , karena logika manusia hanya berdasarkan apa yang tampak , bukan yang tak tampak , sedangkan cara cara Alloh adalah cara cara langit, cara cara yang tidak tampak , mungkin terlihat sangat kebetulan , tapi kebetulan yang berkali kali apa bisa disebut sebagai kebetulan?
di dunia ini tak ada yang kebetulan , semuanya terjadi karena ada penyebabnya , walaupun penyebab dari kejadian tersebut tidak bisa kita logikakan akibat daya jangkau otak kita yang terbatas. kita tak akan bisa pernah menjangkau dengan otak bagaimana nabi musa membelah laut merah sehingga firaun bisa tenggelam disana, bagaimana nabi musa atas izin Alloh mengubah tongkatnya jadi ular , otak kita jg gk akan bisa menjangkau bagaimana nabi isa memunculkan hidangan makanan langsung turun dari langit, bagaiamana nabi muhammad bisa membelah bulan dengan tangannya padahal nabi muhammad berada di bumi, bagaimana nabi ismail dengan hentakan kakinya yag pada saat itu masih bayi bisa mengeluarkan air di atas padang pasir yang tandus dimana air itu tak akan pernah habis walapun jutaan umat manusia  mengambilnya dari dulu hingga sekarang.

Cara cara Alloh seperti ini akan hadir pada mereka yang selalu taat kepadaNya, selalu istiqomah ,selalu bertawakal , selalu sabar mengharapkan bantuan Alloh hadir. Hasbunalloh wa ni’mal wakil , ni’mal maula wani’mannasir lahawla walaquwwata illah billahill’aliyyil ‘adzim